
Profil
Namanya Melkianus Mote. Lahir di Yaba, Kabupaten Deiyai, Provinsi Papua Tengah, 12 Mei 1984, dari pasangan suami-istri, Markus Mote (Wenamoye) dan Martina Dogopia.
Sang Ayah berasal Distrik Tigi, Kampung Yaba 2, sementara Ibu berasal dari Distrik Bouwobado, Kampung Kopai.
Pria yang juga akrab disapa Memo ini menjadi Bintang Baru yang Bersinar (The Rising Star) di Pilkada Deiyai 2024. Tak tanggung-tanggung, tokoh muda sederhana namun tangguh ini berhasil mendapat dukungan mayoritas partai yaitu PPP, PBB, PKN, PKB, PSI, dan Gelora untuk maju Pilkada Deiyai.
Superintendent di Department Facilities & Town Manajemen PT Freeport Indonesia tersebut memang memiliki kegigihan sekaligus panggilan untuk mengabdi di kampung halamannya Kabupaten Deiyai. Pengalamannya sebagai seorang profesional dianggap banyak orang memberi angin segar untuk membangun masyarakat di Kabupaten Deiyai.
Meki sendiri memang besar di lingkungan profesional sejak 2005 bergabung bersama PT Freeport Indonesia. Lulusan Fakultas Teknis Universitas Krisna Dwipayana Jakarta tersebut meyakini jalan untuk memulai perubahan adalah dengan ikut ambil bagian dalam kontestasi politik.
Itulah juga kenapa Meki memberi nama koalisinya ‘Enaimoo Ekowai’ yang artinya ‘Kerja Bersama atau Gotong Royong’ sesuai dengan visi besar yang diusung Meki yaitu ‘Enaimoo Ekowai untuk Deiyai.’ Bagi Meki membangun di Deiyai harus dilakukan secara bersama-sama.
Menurut Meki Kabupaten Deiyai bisa mengalami kemajuan pesat karena pada dasarnya Kabupaten hasil pemekaran Paniai tersebut memiliki akar yang kuat pada budaya, agama dan semangat gotong royong.
“Pada berbagai kesempatan saya selalu bilang bahwa daerah ini punya modal kuat untuk maju karena fondasinya sudah ada yaitu SDM, kekayaan budaya, agama dalam hal ini Gereja tinggal dipoles lebih baik lagi dengan semangat Gotong Royong,” ungkapnya.
Suami dari Fransina Rumbiak itu, menegaskan juga bahwa kemajuan Kabupaten Deiyai yang selama ini diharapkan banyak pihak adalah adanya Peningkatan kualitas hidup masyarakat, berkembangnya infrastruktur terutama pendidikan, kesehatan dan pelayanan dasar lainnya seperti jalan, air minum bersih dan sanitasi, serta kemampuan memanfaatkan sumber daya yang ada untuk mengatasi berbagai persoalan.
Bukan hanya itu, kemajuan juga ditandai dengan meningkatnya kesejahteraan yang bisa dicapai melalui peningkatan kualitas pendidikan, kesehatan, serta ekonomi masyarakat yang merata.
“Artinya masyarakat makmur itu ya cukup pangan, cukup sandang, dan cukup papan,” ucapnya.
Selain itu Meki juga memandang perlu aspek kemajuan dari sisi
“Berkeadilan,” yang memperlihatkan adanya pengakuan setara tanpa diskriminasi terhadap semua lapisan masyarakat, khususnya keberpihakan yang jelas pada Masyarakat Asli Papua.
Dalam kaitan itu, putra Markus Mote (Wenamoye) dan Martina Dogopia tersebut menegaskan pentingnya aspek budaya dalam upaya memajukan Deiyai.
Konsep “Berbudaya” menurut dia ditandai dengan terciptanya masyarakat yang beradab dan berpegang teguh pada nilai – nilai keagamaan, adat, etnik, serta norma – norma kemasyarakatan yang berlaku.
“Deiyai itu kaya dengan nilai budaya, yang juga selaras dengan kuatnya pengaruh agama. Kalau ini konsisten saya meyakini Deiyai ini bisa pesat kemajuannya,” tukasnya.
Sama halnya ide kemajuan, Meki meyakini ke depan jika fondasi ini kuat dan bisa dijalankan secara konsisten maka Kabupaten yang terkenal dengan Danau Tigi tersebut akan memiliki “daya Saing” yang ditandai dengan tercapainya tujuan hidup, memiliki kemandirian, dan mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman.
“Sebagai putra daerah saya optimis ke depan Deiyai akan melaju lebih cepat lagi mengejar ketertinggalannya. Tentu saja tidak dengan cara-cara yang biasa lagi tetapi harus luar biasa dengan konsep yang jelas dan program-program yang terukur,” pungkas Meki.